Sabtu, 27 Juli 2013

Menyanyangi mu dengan Sederhana

Sekedar mengisi kekosongan liburan ku kali ini...
aku ingin men-sharing sedikit cerita yang pernah kualami bersama dia
(cerita ini cerita dia yg kumodifikasi ulang) *eh he he he
judul ny "Menyanyangi mu dengan Sederhana"
nama tokoh, tempat didalam cerita ini diganti agar tidak menyinggung orang yang bersangkutan.....
ok.... Checkidot....

Menyayangimu dengan Sederhana

Hujan semakin deras mengguyur Maguwoharjo termasuk Kampus Vie di Pai City. Vie sungguh menyesal karena tidak menghiraukan instingnya tadi siang untuk membawa payung. Matanya bolak-balik tertuju pada jendela kelas, silabus Konstruksi Tes, dan Pak Eddy yang mengampu mata kuliah tersebut. Untungnya, memorinya masih mampu merekam sebagian kata-kata sang dosen di sela-sela lamunannya tentang seseorang. Tak terasa 1 jam pun telah berlalu dan Pak Eddy mengakhiri pertemuan pertama tersebut.
”Woi! Vie! Ngapain kamu masih duduk manis di situ? Ayo, cepetan keluar!” Suara Elsa dengan segera membuyarkan imaginasinya. Vie melihat ke sekelilingnya seperti orang dengan IQ < 70 lalu bangkit dengan malas. Setelah turun dari lantai 3, mereka mondar mandir tidak jelas di lorong Psikologi dan akhirnya terdampar di hall selatan yang telah dipenuhi makhluk yang bernama cowok, pastinya dari Fakultas Teknik. Bunyi tanda SMS masuk dari HP-nya memecah keasyikan Vie saat tengah mengagumi kampusnya.
Hai, Vie, Kamu lagi apa? Masih kul ya? Aku lagi servis motor nih. Maaf ya Vie coz aku ga bisa ketemu kamu ari ni. Sampe ketemu bsk. Love You.
Tentu saja senyum Vie segera keluar dari tempat persembunyiannya. SMS dari Andre yang gak neko-neko tapi tulus selalu membuat Vie bahagia. Engan gerakan jari yang terlatih, Vie pun membalas SMS tersebut.
Iya, gak apa-apa. Kan kemarin kamu juga udah bilang. Lagian saudara-saudara kamu kan jarang-jarang datang. Wajar aja mamamu mau ngadain makan malam bareng. Lagi nunggu ujan berenti. CU 2morrow. Kangen nih... Hehehe...
Pikiran Vie pun melayang menuju pertemuan dengan Andre kira-kira satu setengah bulan yang lalu di Sangkal Putung, Klaten. Saat itu, mereka sedang menjalani pelatihan sebagai asisten fasilitator PPKM (Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa). Vie sangat kesal dengan sikap Andre yang entah kenapa sering meledeknya. Sialnya, Vie jadi sering memperhatikannya karena Andre mirip dengan seseorang yang belakang diketahui adalah teman SMA-nya.
Saat Vie berulang tahun, Andre memberinya kejutan tak terlupakan bertempat di kampus Vie dengan percikan kembang api, ratusan lilin, dan taburan bunga. Akhirnya, mereka jadian tanggal 18 Januari 2012 yang mereka anggap sebagai tanggal cantik. Teringat pula saat terjadi kesalapahaman di antara mereka karena Vie lupa memberitahu Andre yang memang cemburuan ketika ia pergi dengan Deni, teman se-divisi BEMF.
”Kamu marah yah? Kalau kamu marah, pukul aku saja deh.”
Enggak. Lagian, ngapain juga aku mukul kamu. Aku kan cowok baik dan gak bakal bisa mukul cewek.”
Ya udah... kalau kamu gak bisa mukul cewek. Tapi....maafin cewek bisa kan?”
Mendengar perkataan Vie, otomatis kemarahan Andre luruh dan langsung memeluk gadis kesayangannya itu. Vie sedang senyum-senyum sendiri saat Elsa memanggilnya. ”Vie, pulang yuk. Tuh hujannya sudah gak deras lagi,” ajak Elsa sambil menggamit jemari Vie. ”Oya, istirahat yang banyak yah supaya besok fit waktu pergi. Hehe.. aku kan juga udah gak sabar ketemu Leon,” canda Elsa saat berpisah di tengah jalan.

***

Suara klakson mobil memanggil Vie keluar dari kamar kosnya sekitar Pk. 17.00 WIB. ”Halo, sayang,” sapa Andre lembut smabil mengacak-acak rambut Vie. ”Fiuh, akhirnya ketemu juga Ndre. Hehe...” Mata Vie beralih pada 2 sosok lainnya yaitu Elsa dan Leon. ”Hai Sa.. Apa kabar Leon? Lama gak ketemu nih..” Elsa tertawa renyah sementara Leon hanya memandang lama Vie, lalu mengangguk, dan tersenyum simpul.
”Udah yuk. Kita cepetan cabut. Tapi, kamu gantiin aku nyetir yah Leon. Kurang enak badan nih. Apalagi cuacanya juga buruk,” ujar Andre yang disambut dengan anggukan kepala ringan dari Leon. Mereka akan menuju Solo untuk menghadiri pesta ulang tahun Ruben, sahabat baik Andre, yang ke-21. kebetulan Vie, Elsa, dan Leon pun mengenalnya.
Perjalanan mereka diiringi oleh lebatnya hujan dan hembusan angin yang kencang. Namun, tetap diwarnai oleh cerita dan canda tawa. Sembari mengemudi, sesekali Leon melirik ke bangku belakang lewat kaca spion. Vie terlihat semakin manis saat ia bercanda dengan pangerannya itu. Andre pun menanggapi perkataan Vie dengan antusias sambil menyalurkan kemesraannya. Leon berbisik pada dirinya sendiri, ”Mereka sungguh pasangan yang sempurna. Tujuh tahun mengenal Vie, belum pernah aku melihat Vie sebahagia itu.”
Semua kenangan bersama Vie, baik suka maupun duka, berputar cepat di kepalanya. Siapa sangka gadis yang ceria seperti Vie ternyata memiliki jantung yang lemah sejak lahir? Ia menyayangi Vie dengan sepenuh hatinya. Apapun yang Vie alami, ia selalu berusaha ada di sampingnya. Ia sadar bahwa seharusnya ia turut bahagia bila Vie bahagia. Namun, mengapa tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang menikam hatinya dan meninggalkan celah di sana? Perih... pedih sekali... Lambat laun, matanya dipenuhi oleh genangan air yang siap menerobos keluar. Bulir-bulir air mata pun akhirnya jatuh di wajah tirusnya. Leon melepas tangan kanannya dari stir mobil dan dengan segera menghapus air mata itu. Matanya kembali di arahkan ke jalan. Saat itulah, leon melihat truk gandeng dengan lampu redup dan kecepatan tinggi dari arah berlawanan keluar dari jalur yang semestinya dan meluncur cepat ke jalurnya. Nafasnya tertahan, matanya membelalak kaget, mulutnya setengah terbuka. Secepat mungkin ia menginjak pedal rem. Namun, terlambat...

***

Sinar mentari yang menerobos masuk ke ruangan membuat Vie membuka matanya perlahan-lahan. Tubuhnya terasa lemas dan kepalanya pusing. Vie melihat ke sekelilingnya. Putih.. semua berwarna putih.. Setelah beberapa saat ia baru sadar bahwa ia berada di Rumah Sakit. ”Vie! Kamu sudah sadar? Puji Tuhan!” ucap seseorang yang suaranya terdengar tidak asing lagi di telinganya. ”Elsa?” tanya Vie. ”Iya, Vie. Ya ampun, akhirnya kamu sadar juga! Aku takut kehilangan kamu!” tangis Elsa sambi memeluk Vie erat. ”Memang aku kenapa Sa?” ujar Vie pelan. ”Kita kan kecelakaan mobil 1 minggu lalu. Kondisi kamu kritis dan mengalami koma. Kondisiku paling baik di antara kalian. Jadi, paling cepat pulih,” tutur Elsa sedih.
Lambat laun Vie pun dapat mengingat hari dimana ia akan mengahadiri pesta ulang tahun Ruben di Solo bersama Andre, Elsa, dan Leon. Tiba-tiba, kepanikan menyerangnya dan pikiran buruk segera menghantuinya.
 ”Sa! Di mana yang lain? Di mana Andre? Leon? Tolong antar aku menemui mereka,” rintih Vie sambil berusaha bangkit dari tempat tidur. ”Vie, kamu masih sangat lemah. Kamu belum boleh bangkit dari ranjang. Aku janji besok kamu akan melihat mereka. Gak usah mikir macem-macem dulu. Sekarang, istirahat yah...”
***

Keesokan paginya, semangat Vie semakin besar karena sudah tidak sabar untuk melihat Andre dan Leon. Ia pun telah merasa cukup segar meskipun sejak kemarin ia selalu merasa gelisah apalagi bila teringat akan Andre. ”Sa, ayo lihat Andre sekarang..” Elsa hanya mengangguk lemah. Vie sempat merasa heran akan perubahan pada diri Elsa yang hari itu terlihat suram. Tapi, ia tidak berpikir lebih lanjut mengenainya. Dengan kursi roda, Vie pun  diantar ke kamar kekasihnya itu. Kebahagiaan Vie seakan memuncak saat meihat Andre baik-baik saja meskipun terbaring lemah di ranjang. Mata mereka bertemu seolah mengungkapkan kelegaan luar biasa. Andre menarik tangan Vie dan menciumnya lembut. Tak perlu kata-kata lagi.
”Sa, aku sangat bahagia karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup sehingga aku masih bisa lihat keadaan Andre baik-baik saja,” ucap Vie yang kembali disambut dengan anggukan lemah dari Elsa.
 ”Vie, kembali ke kamar sekarang yuk,” ujar Elsa pelan. ”Loh? Kan aku belum lihat Leon. Abis lihat Leon, baru kembali ke kamar. Sekarang kita ke kamar Leon yah..” pinta Vie. Ia sudah tidak sabar melihat orang yang selama ini menjadi ’malaikat pelindung’nya. Elsa diam saja dan tidak segera mendorong kursi roda Vie menuju kamar Leon. ”Ada apa Sa?” tanya Vie bingung. ”Leon gak ada di kamarnya. Udah yah, mending kita balik ke kamarmu,” jawab Elsa dengan suara agak gemetar. Detik itu, Vie merasa ada sesuatu yang tidak beres, sangat tidak beres. ”Sa! Jawab Aku, Sa! Ada apa sebenarnya?” Elsa meremas lembut bahu Vie. ”Vie kamu harus kuat menerima semua ini. Leon telah dipanggil Allah Bapamalam tadi,” tutur Elsa sambil meneteskan air mata. Mata Vie membelalak ketakutan dan air matanya seakan siap membanjir keluar. ”Apa...?!? Tidak mungkin! Tidak mungkin! Tidaaakkk! Aku tidak percaya! Elsa bohong! Bohonggg!” teriak Vie histeris. Vie menangis sejadi-jadinya dan merasa sangat marah. Ia tidak percaya kalau Leon telah meninggal. ’Malaikat pelindgung’nya itu telah pergi. Kali ini untuk selamanya...
”Kamu harus menerima semua ini dengan lapang dada, Vie. Seperti yang aku coba lakukan,” ujar Elsa. ”Tolong ceritakan semuanya Sa..,” pinta Vie. ”Kondisi Leon paling kritis dibanding kita semua. Posisi duduk kita yang menentukan keselamatan kita. Leon berada di kursi pengemudi sedangkan kita di kursi penumpang. Leon sempat sadar dan menanyakan kita semua terutama kamu. Namun, setelah itu kondisinya kembali kritis sampai tadi malam dan akhirnya ia dipanggil oleh Allah Bapa. Dokter belum mengizinkan kamu menjenguknya kemarin karena bila mengetahui kondisi Leon, kondisi kamu terancam drop apalagi jantungmu lemah,” tutur Elsa panjang lebar. Vie tidak tahu harus berkata dan bertindak apa. Pikirannya seakan kosong. Ia masih tidak percaya . mengapa semua ini harus terjadi? Leon yang selalu ada untuknya, tiap ulang tahunnya, kenaikan kelas, lulus SMA, masuk kuliah, putus dengan pacar pertamanya, ribut dengan orang tua dan teman-teman, bahkan saat ia jadian dengan Andre... Ucapan Leon yang paling diingatnya yaitu I will protect you…always…   

***

“Selamat! Operasinya berjalan lancer,” ucap Dokter pada keluarga dan teman-teman dekat Vie, termasuk Andre dan Elsa, lalu mempersilahkan mereka masuk ke kamar Vie. Mereka menghujani Vie dengan pelukan dan ucapan selamat. Vie akhirnya mau melakukan transplantasi jantung setelah di’komporin’ oleh semua pihak terutama Elsa. Ia teringat ucapan Elsa, ”Vie, dengan transplantasi jantung, kamu bisa lebih kuat dan melakukan banyak hal! Lagian, jantung sehat yang cocok dengan kamu udah ada.” Vie memang merasa nyaman dan dekat dengan jantung barunya. ”Sa, boleh aku tahu siapa yang mendonorkan jantungnya padaku?” pinta Vie. Raut muka Elsa berubah menjadi sedih. Tapi, sedetik kemudian ia tersenyum sangat tulus lalu berkata, ”Vie, ini buat kamu...” Kemudian, Vie membuka gulungan kertas itu dan membacanya.
Kuingin menyayangimu dengan sederhana
Seperti lilin yang memberi dirinya
Untuk terbakar sampai habis...
Leon
Kata-kata tulus tersebut telah menjawab semua pertanyaan di benak Vie. Ia hanya dapat menutup mulutnya dengan tangan dan menangis penuh haru. Kira-kira dua minggu telah lewat sejak kebersamaan mereka untuk yang terakhir kalinya. Mata Vie bergerak mencari kalender. Hari itu tanggal 14 Februari 2012
Hari dimana bunga, cokelat, ataupun boneka tidak lagi berarti banyak. Vie seakan memperoleh seluruh hidup seseorang yang sekarang telah melebur menjadi satu kesatuan dengan dirinya. Vie lalu menyentuh dadanya dan berbisik, ”Happy Valentine, Leon...”
Makna cinta yang sesungguhnya :
Cinta bukanlah soal selera dan rasa
Tapi...
Bagaimana membuat dirimu benar-benar bermakna




                                                                   Oleh : Vincentius Thio Ngesti